Oleh Tyas KW (Solo Pos, 01 Juli 2018)

Imbri si Pemberani ilustrasi Solo Pos.jpg
Imbri si Pemberani ilustrasi Solo Pos

Di perairan Selat Bangka, banyak terdapat terumbu karang. Imbri, si penyu sisik, senang tinggal di situ. Banyak ikan koral yang bermain dengan riang di sela-sela terumbu karang. Warna-warni ikan koral itu selalu membuat Imbri terpesona. Ia membayangkan senangnya bermain bersama mereka.

Suatu hari, Imbri sedang mencari makan di kumpulan terumbu karang itu. Yelo, seekor ikan tang kuning, sedang bermain petak umpek bersama Kune, adiknya dan teman-temannya.

Imbri, yang memang ingin bermain bersama mereka, berenang mendekat.

“Hai, bolehkah aku ikut bermain denganmu?” tanya Imbri. Walaupun malu, Imbri memberanikan diri untuk bertanya.

“Wah, badanmu besar sekali, jangan-jangan kamu susah bersembunyi. Main petak umpetnya jadi tidak seru,” kata Yelo sambil berenang mengelilingi Imbri.

“Kulitmu keras. Aku takut terserempet. Aku bisa terluka,” timpal Damo si ikan betok.

“Iya, Damo benar. Sisikmu yang keras ini bisa melukaiku,” kata Yelo.

“Aku akan berhati-hati agar tidak menabrak kalian,” jawab Imbri.

Namun, Yelo dan Damo tetap menggelengkan kepala.

Imbri yang sedih lalu berenang menjauh. Ia berpapasan dengan Manti, si ikan pari, sahabatnya.

“Kenapa wajahmu muram?” sapa Manti.

“Kata ikan-ikan koral itu, aku terlalu besar untuk bermain bersama mereka,” ucap Imbri.

“Sudahlah, jangan bersedih. Mungkin mereka takut, kamu akan menemukan mereka dengan mudah,” jawab Manti menghibur Imbri.

Dengan muram, Imbri memandang cangkangnya yang tersusun dan sisik yang keras.

“Cangkangmu terluka?” tanya Manti sambil ikut mengamati cangkang Imbri.

“Tidak. Namun, mereka khawatir cangkang yang keras ini menggores sisik mereka,” keluh Imbri.

“Cangkangmu itu indah. Justru sisik yang keras itu melindungimu agar tidak terluka,” kata Manti.

“Kamu benar, tapi …,” jawab Imbri.

“Ayo bermain bersamaku saja. Kita bermain kejar-kejaran saja, yuk!” ajak Manti.

Imbri masih murung.

Advertisements