Oleh Ari Vidianto (Fajar, 13 Mei 2018)

Gara-gara Mandi Terlalu Pagi ilustrasi Google.jpg
Gara-gara Mandi Terlalu Pagi ilustrasi Google

KUKURUYUUK……KUKURUYUUUUKK….!!!

Bunyi suara ayam jago bersahut-sahutan.

“Uuaaahh!!” Rangga pun terbangun dari tidurnya.

“Mandi ah !” kata Rangga.

Ia pun lalu pergi ke kamar mandi.

“Lho kok Papa sama Mama belum bangun ya?” pikir Rangga.

“Ah mandi aja ah biar unyu, hehehe…” celoteh Rangga

BYUR-BYUUR! Rangga pun mandi dengan semangat.

“Hiiy..kok dingin banget ya airnya?” pikir Rangga. Lalu ia pun segera menyelesaikan mandinya.

“Selesai juga,” katanya. Ia segera keluar dari kamar mandi.

“Lho, kamu sudah mandi Ngga?” tanya mama yang sudah bangun juga.

“Iya, Ma. Kok masih dingin amat ya?”

“Jelas saja dingin. Ini kan jam 04.00 pagi.”

“Apaa…,” Rangga pun terkejut.

“Makanya lihat jam dulu.”

“Biarin ah, aku kan anak yang kuat,” jawabnya sambil berjalan menuju kamar. Mama hanya menggeleng-gelengkan kepala.

***

Jam dinding di rumah Rangga sudah menunjukkan pukul 06.00.

“Ngga, ayo cepat makan.”

“Oke, Ma!”

Rangga bergegas ke meja makan. Lalu ia memandangi menu makanan yang tersaji di meja makannya.

“Yaah.. oseng kangkung. Capeekk deh. Aku ngga mau makan,” keluhnya.

Mama yang melihat dari dapur hanya diam saja.

“Huus, kamu ngga boleh bilang begitu,” kata papa yang menghampiri Rangga.

“Biarin,” kata Rangga yang pergi dari meja makan.

“Astagfirullohal adzim,” ucap Papa.

“Biarin, Pa,” kata Mama.

***

Di kelas IV Rangga tampak asyik ngobrol dengan teman-temannya. Seperti Ade dan Jihan. Ia tak merasa khawatir karena belum sarapan.

Teng, teng, teng!

Bel sekolah telah berbunyi, anak-anak dari kelas I sampai IV segera keluar dari kelas. Mereka berbaris di luar kelas lalu masuk satu per satu. Setelah itu mereka berdoa, dilanjutkan menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya. Setelah itu mereka menunggu guru datang.

Suasana masing-masing kelas berbeda. Kelas I sampai III terdengar anak-anak masih ramai di dalam kelas, maklumlah mereka belum bisa disiplin dengan baik. Lain halnya dengan kelas IV sampai VI, mereka tertib di kelas. Mereka sedang membaca buku selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Anak-anak tinggal mengambil di meja belakang. Yang sering dikenal pojok baca. Ada yang membaca buku cerita, pelajaran dan lain-lainnya. Akhirnya 15 menit telah berlalu. Anak-anak telah selesai membaca buku dan menaruh kembali di pojok baca.

SREK, SREK, SREK! Terdengar langkah kaki yang menuju ke kelas IV.

“Selamat pagi anak-anak.”

“Selamat pagi Pak guru.”

Ternyata Pak Anto guru kelasnya Rangga telah tiba. Lalu mereka pun segera memulai pelajaran.

Satu jam telah berlalu.

“Aduuh..Pak guru, perutku sakit…,” pekik Rangga.

Tiba-tiba saja Rangga memegangi perutnya, seisi kelas memandangi Rangga.

“Perut kamu kenapa Ngga?”

“Perutku sakit, Pak.”

“Kamu belum sarapan ya?”

“Be.. belum Pak. Huhuhuhu…,” jawab Rangga sambil menangis. Meskipun ia bandel ternyata cengeng juga. Seisi kelas tersenyum-senyum melihatnya.

“Kamu mau jajan dulu atau pulang?” kata Pak Anto.

“Huhuhu…aku mau pulang, Pak.”

“Oh, ya sudah. Mari Pak guru antar pulang.”

“Iya, Pak.”

Rangga pun bersiap-siap pulang. Semua teman-teman melihatnya dengan penuh tanya.

“Anak-anak kalian jangan ramai ya? Pak guru mau antar Rangga dulu.”

“Baik, Pak Guru,” jawab anak-anak kompak.

Lalu Pak Anto dan Rangga keluar kelas. Pak Anto menyalakan motornya, lalu Rangga segera naik. Motor pun berjalan dengan cepat meninggalkan sekolah.

***

Rangga hampir sampai ke rumahnya. Di tengah jalan banyak orang-orang yang melihatnya. Muka Rangga pun memerah karena malu sekali. Ia jadi teringat apa yang di lakukannya tadi pagi. Sudah mandi terlalu pagi, tiadak sarapan lagi. Akhirnya perutnya sakit, mungkin ditambaha masuk angin juga. Sesampainya di rumah nanti, ia akan meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Terutama mamanya. Begitu pikir Rangga. Ckiitt…!

Akhirnya motor Pak Anto sampai juga di depan rumah Rangga. Terlihat mamanya sedang ada di depan rumah. Lalu Rangga segera turun dari motor Pak Anto.

“Pak, kenapa dengan Rangga?”

“Katanya sakit perut, Bu.”

“Oh, gitu ya Pak,” jawab mama.

“Kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu?”

“Ya, Pak. Terima kasih telah mengantar Rangga.”

“Terima kasih ya, Pak,” kata Rangga sambil mencium tangan Pak Anto.

“Ya, sama-sama,” jawab Pak Anto sambil berlalu meninggalkan rumah Rangga.

“Ma, maafiin aku ya?” kata Rangga sambil memeluk mamanya.

“Ya, mama maafin kamu. Lain kali jangan mandi terlalu pagi dan nggak sarapan ya?”

“Ya, Ma. Obati aku dong, Ma.”

“Oke,” ucap Mama. (*)

Advertisements