Oleh Nida Fatah (Suara Merdeka, 15 April 2018)

Tersesat di Kebun Binatang ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Tersesat di Kebun Binatang ilustrasi Suara Merdeka

Libur sekolah telah tiba. Banyak teman sekelas Nina yang sudah berencana untuk berlibur. Begitu juga dengan Nina.

“Nina, liburan ini kamu mau ke mana?” tanya Rahma.

“Kata ibuku, kami mau ke kebun binatang,” jawab Nina bersemangat.

“Kalau kamu sendiri akan ke mana, Rahma?” Nina balik bertanya.

“Aku mau mengajak ayah juga ibuku ke pantai saja, ah,” Rahma tak kalah sumringah.

Dua murid kelas II sekolah dasar di Yogyakarta itu kemudian berjalan bergandengan untuk pulang.

***

Hari yang ditunggu telah tiba. Nina sekeluarga bersiap menuju kebun binatang Gembiraloka. Ada Ayah yang menyetir dan Ibu di sampingnya. Nina duduk di belakang dengan Kak Wafa yang sekarang sudah kelas VI.

Kebun binatang tampak ramai. Banyak pengunjung anak-anak. Nina dan Kak Wafa terlihat antusias. Mata mereka berkeliling menyaksikan binatang-binatang di kandang.

“Nina, hati-hati. Jangan sampai terpisah,” kata Ibu menasihati.

Namun saat Nina sedang asyik melihat gajah, ternyata Kakak, Ayah juga Ibu sudah tidak terlihat. Nina bingung dan hampir menangis. Berlari ke sana kemari mencari keluarganya. Tapi tetap saja tidak ketemu.

Tiba-tiba Nina ingat pesan Ibu, ketika tersesat Nina harus berani bertanya kepada orang di dekatnya.

“Bu, bisa bantu Nina?” kata Nina menghampiri seorang ibu yang lewat di sampingnya.

“Iya, ada apa, Nak?” Ibu itu bertanya.

“Lihat ibu Nina?” Wajah Nina tampak ketakukan.

Ibu itu menggeleng. Setelah itu Nina diajak menuju pusat informasi. Sebelumnya, Nina tak lupa mengucapkan terima kasih kepada ibu yang telah mengantarkannya.

“Terima kasih, Bu. Telah menolong Nina,” ucap Nina santun. Ibu itu lantas segera meninggalkan Nina.

“Nama kamu siapa, Nak?” Seorang bapak di pusat informasi bertanya.

“Namaku Nina, Pak,” Nina menjawab dengan sedikit bersedih.

“Kamu tinggal di mana?” Bapak itu melanjutkan.

“Jalan Parangtritis KM 4, Bangunharjo,” jawab Nina.

“Siapa nama orang tuamu?” Bapak di pusat informasi kembali bertanya dengan sabar.

“Ayahku bernama Rahmad dan ibuku bernama Diah,” Nina menjawab dengan lancar dan berani.

Segera setelah Bapak itu menyudahi pembicaraannya, pengeras suara berbunyi.

“Panggilan untuk Bapak Rahmad dari Bangunharjo. Ditunggu adik Nina di pusat informasi. Sekali lagi, panggilan untuk Bapak Rahmad dari Bangunharjo. Ditunggu adik Nina di pusat informasi.”

Bapak yang berkacamata itu kembali menghampiri Nina.

“Kamu anak hebat, Nina,” Bapak itu memuji.

“Terima kasih, Pak,” Nina tersenyum.

Tidak begitu lama, terlihat Ibu berlari menghampiri Nina yang sedang duduk. Nina ikut beranjak dan memeluk Ibu. Di belakang ada Ayah juga Kak Wafa yang mengikuti. Wajah mereka terlihat amat lega.

“Kamu baik-baik saja, Nina?” Ibu bertanya dengan prihatin.

“Baik, Bu,” Nina tersenyum lebar. Ayah ikut mengelus kepala Nina.

“Ibu sampai menangis dan bertanya ke sana kemari lo, Nin,” Kak Wafa menggoda.

“Aku ingat pesan Ibu. Seperti yang ada di buku cerita Nina. Kalau Nina tersesat harus berani bertanya,” Nina tersenyum bangga.

“Oh, iya? Kamu mengingatnya, Sayang.”

Ibu kembali memeluk anak bungsunya. Nina mengangguk.

Liburan kali ini amat menyenangkan, meski sebelumnya menegangkan. Nina mendapatkan pengalaman baru. Tak sia-sia Nina menghafal alamat rumah serta nama orang tuanya. Ternyata, dalam situasi tak terduga akan berguna juga. (58)

Advertisements