Oleh Riyana Rizki (Lampung Post, 15 April 2018)

Jempol Kanan Dudung ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Jempol Kanan Dudung ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Aku tidak menyangka bertemu Dudung. Anak paling tinggi dan besar di sekolahku. Semua anak di sekolah takut padanya. Terutama pada jempol kanan Dudung. Tidak ada yang berbeda dengan jempol itu. Hanya saja jika jempol itu sudah mengarah ke bawah dan ditujukan padamu. Siap-siap saja, kamu akan jadi sasaran kejahilan Dudung.

Aku ingat, Dudung pernah mengarahkan jempolnya pada Mira. Teman dekatku sejak kelas 1 SD. Selama satu minggu, Dudung mengerjai Mira. Tidak ada yang melapor. Karena semua anak di sekolah seperti sudah paham. Dudung hanya akan menjahili anak tersebut hanya dalam 1 hari itu saja.

Selama 1 minggu, Mira pulang dalam keadaan menangis. Tapi untuk menyembunyikan dari orang tuanya, Mira tidak langsung pulang ke rumah. Mira akan mampir ke rumahku sampai matanya tidak lagi sembab.

Ya, dan sekarang anak badung itu ada di rumahku. Duduk di ruang tamuku. Ternyata orang tua kami berteman. Ini bisa menjadi kabar baik buatku. Sebagai satu-satunya anak kelas 6 yang belum mendapat giliran dijahili Dudung, aku memang harus waspada. Nanti, jika tiba giliran jempol kanan Dudung mengarah padaku, akan kulaporkan setiap kejahilannya pada orang tuaku. Atau bisa jadi aku akan aman. Tidak akan dijahili. Dudung bisa saja segan karena orang tua kami berteman.

Saat diperkenalkan dengan Dudung, kukatakan langsung pada orang tuaku.

“Kami satu sekolah, iya kan, Dung?” aku sok akrab dengannya. Padahal aku deg-degan sekali.

“Ohh, kok Dudung tidak pernah cerita ya.” kata mama Dudung.

Aku hanya menjawab dengan senyuman. Tidak menemukan kata-kata yang pas untuk menjawab mamanya Dudung.

Sudah lebih sebulan Dudung dan kedua orang tuanya rutin datang setiap hari Minggu. Pada awalnya Dudung sangat pendiam. Jika tidak ada yang bertanya padanya, Dudung lebih banyak diam. Dudung juga terlihat seperti anak manis yang mengikuti semua kata orang tuanya. Sangat berbeda dengan Dudung di sekolah. Sangar dan jahil.

Hari minggu berikutnya, giliran kami yang berkunjung ke rumah keluarga Dudung. Setelah makan siang, mama dan aku membantu mamanya Dudung membereskan meja makan. Tanpa kusangka, Dudung datang membantu kami. Ia mengangkat yang berat.

“Dudung ini sangat rajin, loh. Selalu membantu.”

Aku tidak menyangka Dudung bisa sebaik ini. Benar-benar berbeda dengan Dudung di sekolah.

“Kamu kelas 6 berapa?”

Aku kaget mendengar suara Dudung. Sekaligus tidak menyangka ia akan bicara padaku.

“6D.” jawabku super singkat.

“Aku kelas 6C.” katanya tanpa kutanya.

“Aku tahu.” Kataku sedikit ketus. Aku sendiri kaget campur takut. Bagaimana kalau Dudung kesal dan besok mengarahkan jempol kanannya padaku. ohh…

“Pasti karena aku badung ya. Suka ngerjain anak lain ya.”

Aku tidak memberi reaksi apa pun.

“Kupikir kalau aku berkuasa banyak yang mau berteman denganku. Tapi mereka malah takut. Aku tidak bermaksud begitu.”

Kami terdiam lama. Aku tidak tahu harus berkomentar apa.

“Aku cuma mau berteman.”

Aku merasa tersedak meski aku tidak sedang makan apa pun. Jadi Dudung yang begitu badung hanya ingin punya teman. Jadi dia kesepian. Memang saat pindah setahun lalu, tidak ada yang mau berteman dengan Dudung. Wajar sih, muka Dudung memang sedikit garang. Ditambah tubuh yang tinggi dan besar membuatnya terlihat semakin seram.

Tiba-tiba aku merasa kasihan.

Keesokan hari aku menunggu Mira di depan gerbang sekolah. Seperti biasa kami akan masuk bersamaan. Begitu Mira datang aku segera mengajaknya masuk.

Langkah Mira terhenti.

“Duh, ada Dudung. Bagaimana ini?” nada Mira terdengar khawatir.

“Tidak apaapa. Ayo. Lagian kan kamu sudah pernah kena giliran dapat jempol kanan Dudung, Mir.” Aku meyakinkan.

“Ya bukan aku maksudnya. Tapi kamu. Kamu kan belum pernah kena jatah jempol kanan Dudung. Waah.”

Aku melangkah tenang. Dalam hati aku girang. Anak-anak yang lain menunduk ketika melewati Dudung. Mereka takut kalau-kalau jempol kanan Dudung diarahkan kepada mereka.

Begitu berjarak beberapa langkah dengan Dudung. Mira kembali berhenti.

“Dudung hadap sini. Lewat belakang aja yuk.”

Aku terus melangkah. Sekarang kami sudah sangat dekat. Mira berdiri di belakangku ketika Dudung menghadang kami.

Dudung mengangkat jempol kanannya dalam keadaan terbalik. Mira berlonjak. Ia menarikku untuk segera masuk ke area sekolah.

Tidak lama arah jempol Dudung berputar. Jempol Dudung sekarang mengarah ke langit. Mira dan beberapa anak yang berasa di dekat gerbang terheran-heran.

Aku tersenyum pada Dudung. Dudung pun membalasnya.

Sejak hari itu, Dudung tidak lagi ditakuti, malah disegani karena ia meminta maaf pada semua anak yang pernah dijahilinya. Dudung juga suka membantu anak-anak di sekolah. Persis seperti yang ia lakukan di rumah.

Sekarang tidak ada lagi yang takut pada jempol kanan Dudung. *

Advertisements