Oleh Titik Pusporini (Kompas, 01 April 2018)

Kipas Bambu Batik ilustrasi Regina Primalita - Kompas.jpg
Kipas Bambu Batik ilustrasi Regina Primalita/Kompas

RUANG kelas lima SD Kadipaten Yogyakarta mendadak ramai. Bu guru Ida membagi kelompok untuk tugas keterampilan.

“Maaf, Bu. Saya masuk kelompok berapa, ya?” tanya Fahri.

“Fahri kelompok lima bersama Satrio, Ayu dan Anastasia.”

“Tugas kami yang mana, Bu?” gantian Ayu yang bertanya.

“Ayo, anak-anak dengarkan dahulu!” suara Bu Ida memecah suasana kelas yang ramai. “Setiap kelompok membuat karya berbahan dasar bambu. Kipas, hiasan gantung, vas bunga, atau yang lain juga boleh. Siapkan bahan-bahannya bersama kelompok di rumah. Selasa depan kalian harus membawa hasil tugasnya ke sekolah!”

“Enaknya buat apa, ya?” Satrio bertanya pada teman sekelompoknya saat istirahat.

“Bagaimana kalau kipas bambu batik saja?” usul Fahri. “Di rumahku, ada bambu sisa bekas pagar, bisa dipakai,” usul Fahri.

“Aku setuju kipas bambu batik. Untuk batiknya, aku akan minta kain perca batik sama Mama,” Anastasia yang Mamanya tukang jahit sepakat.

“Oh, okelah, aku setuju. Kamu bagaimana, Ayu?” tanya Satrio pada Ayu.

“Oke, aku juga setuju. Tapi, aku bawa apa?” tanggap Ayu.

“Bagaimana kalau bawa lem kayu?” usul Fahri.

Ayu pun mengangguk.

“Lha, terus aku bawa apa?” Satrio menimpali.

“Kita butuh gergaji, bor dan lain-lain. Pinjam bapakmu, ya?” tanggap Fahri.

Satrio yang bapaknya tukang kayu menjawab, “Oke, siap bos!”

“Bagaimana kalau kerja kelompoknya di rumah Fahri saja pada hari Minggu?” usul Ayu kemudian. Rumah Fahri memang teduh, banyak pepohonan.

“Aku setuju di rumah Fahri. Tapi, kalau Minggu aku tidak bisa karena harus ke gereja,” kata Anastasia yang beragama Katolik.

“Sabtu pagi saja bagaimana?” ujar Satrio.

“Aduh, maaf, kalau Sabtu pagi, aku yang tidak bisa. Aku harus membantu ibuku bikin kue. Sabtu sore saja, ya?” tawar Ayu.

Akhirnya, mereka berempat sepakat kerja kelompok pada hari Sabtu pukul 3 sore di rumah Fahri.

Sabtu sore pukul tiga, Satrio, Ayu dan Anastasia sudah berkumpul di rumah Fahri.

“Ada banyak pilihan kain batik, ini aku bawa tiga,” kata Anastasia sambil mengeluarkan kain perca dari tas keresek.

“Oke, semua sudah siap. Kita bagi tugas, ya? Aku dan Satrio menyiapkan bilah- bilah bambu, Ayu dan Anastasia siapkan kain batiknya!” ujar Fahri.

“Tunggu dulu! Kain batiknya kan ada tiga. Kita putuskan dulu yang mana? Biru, merah atau hijau?” Anastasia mengangkat perca-perca batik.

“Biru!” ungkap Fahri, Satrio dan Ayu hampir bersamaan.

“Sebetulnya aku suka merah, tetapi karena kalian bertiga biru, kalah voting deh,” ujar Anastasia. “Ya, sudahlah, biru juga cantik kok.”

Mereka lalu mengerjakan tugas kelompok dengan riang gembira. Semua menyadari, segala sesuatu yang dilakukan dengan musyawarah dan mufakat, hasilnya akan terasa lebih baik bagi semua. *

 

Catatan:

Khusus untuk Klasika edisi Maret, kami akan mengangkat salah satu nilai karakter unggul dengan dongeng bertemakan “Berkumpul dan Bermusyawarah”. Kirimkan dongeng Anda ke nusantarabertutur@gmail.com

Advertisements