Oleh Rosni Lim (Suara Merdeka, 18 Maret 2018)

Belajar Sepeda ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Belajar Sepeda ilustrasi Suara Merdeka

Hari Minggu telah tiba. Ayah berjanji akan membawa Feri ke rumah Nenek. Di depan rumah Nenek ada pekarangan yang luas dan bersih. Ayah berencana mengajari Feri bersepeda di sana.

“Ayah, jadi rencana kita ke rumah Nenek hari ini?” tanya Feri sehabis mandi dan sarapan nasi goreng yang dibuatkan Ibu.

“Jadi,” jawab Ayah. “Ayo pamit dulu pada ibumu, kita berangkat sekarang.”

“Horeee!” Feri bersorak. Dia masuk ke dalam sebentar, pamit pada Ibu lalu keluar lagi dan naik di boncengan kereta Ayah.

Ayah menstater sepeda motornya lalu melaju membawa mereka ke rumah Nenek. Kira-kira 10 menit kemudian, Feri sampai di rumah Nenek. Dengan gembira dia masuk dan memberi salam kepada Nenek dan Paman yang sedang menonton tv di ruang tamu.

“Halo, cucuku,” sapa Nenek sambil mendekap Feri yang memanggil dan mendekatinya.

Setelah Ayah memberi salam pada Nenek dan Paman, lalu mengambil sepeda baru yang dibelinya beberapa hari lalu yang dititipkan di rumah Nenek.

“Ayo Feri, Ayah ajari kamu bersepeda,” kata Ayah.

Feri berjalan mengikuti langkah Ayah menuju pekarangan rumah Nenek. Dia melihat Ayah memegang stang sepeda dengan kedua tangannya.

“Sepeda baru ini cantik sekali, Ayah,” kata Feri senang. Matanya mengamati warna biru sepeda itu yang mengkilap.

“Iya Feri, Ayah sengaja membelikannya untukmu, karena anak seusiamu sudah saatnya belajar bersepeda dan ini sangat berguna.”

“Iya Ayah,” jawab Feri.

“Ayo, sini Nak! Mula-mula kamu pegang kedua stang sepeda ini dengan dua tanganmu, setelah itu kamu naik di atas tempat duduknya. Nah, begini,” kata Ayah setelah Feri mengikuti petunjuknya.

“Setelah posisi duduk benar, kamu coba atur supaya kedua sadelnya pas di kakimu, lalu perlahan kayuh sadelnya dengan satu kakimu sementara satunya lagi kamu angkat perlahan-lahan ketika sepeda itu mulai bergerak.”

Feri mengikuti petunjuk Ayah. Pertama kali Feri agak takut mengangkat kaki yang satunya lagi, ketika sepeda itu mulai terkayuh. Tapi Ayah membantu memegang stangnya hingga dia mendapatkan keseimbangan. Setelah beberapa meter Ayah membantu memegang stang, Ayah mencoba melepaskan pegangannya supaya Feri bisa mengatur sendiri keseimbangannya.

“Ups! Ups! Ups!” teriak Feri dengan suara ketakutan ketika Ayah tak lagi memegangnya. ”Bleb!” sekonyong-konyong Feri pun jatuh terjerembab di atas tanah.

Ayah buru-buru membantu Feri berdiri dan membenarkan letak sepedanya. “Wah, kamu masih belum bisa menjaga keseimbangan, makanya jatuh,” kata Ayah.

“Iya Ayah,” Feri meringis sambil membersihkan debu di lututnya.

“Nggak apa-apa Nak, setiap anak yang belajar bersepeda pada mulanya pasti akan terjatuh, sama seperti seorang anak balita yang baru mulai belajar berjalan.”

Feri mengangguk, hatinya agak ciut untuk mencoba lagi. Ayah memberinya semangat.

“Ayo Nak, kamu pasti bisa. Ayah akan mengajarimu dan membantumu hingga kamu bisa menjaga keseimbangan.”

Feri naik lagi ke atas sepeda. Beberapa kali dia miring kala menaikkan kedua kakinya. Tapi Ayah menyokongnya, hingga akhirnya dia bersorak gembira ketika berhasil melajukan sepeda ke depan tanpa terjatuh.

“Aku berhasil! Aku berhasil, Ayah!” teriaknya sambil tertawa.

“Bagus Feri! Sekarang kamu coba belajar berbelok ketika sudah sampai di ujung jalan,” kata Ayah.

Feri mengayuh lagi sepedanya. Ketika sudah sampai di ujung jalan, dia mencoba membelokkan sepedanya, tapi hampir terjatuh dan buru-buru menjejakkan kedua kakinya ke atas tanah.

“Pelan-pelan, Feri!” seru Ayah.

“Saat hendak berbelok kamu juga harus menjaga keseimbanganmu dan konsentrasi,” teriak Ayah.

Feri mencoba lagi berbelok tanpa terjatuh. Empat kali dia mencoba dan kali kelima dia baru berhasil. “Aku berhasil! Aku berhasil, Ayah!” teriaknya gembira.

Ayah tersenyum. Dan memperhatikan Feri dari jauh. Hatinya terasa lega karena putra kesayangannya itu berhasil belajar satu hal lagi yang berguna.

“Iya, begitulah Nak, setelah kamu berhasil belajar bersepeda, pasti kamu akan merasa senang sekali,” bisik Ayah dalam hati.

“Semangat, Feri!” teriak Ayah lagi dari kejauhan.

Feri mengayuh sepedanya dengan semangat. Wajahnya tersenyum gembira karena sangat bahagia berhasil bersepeda tanpa terjatuh lagi. (58)

Advertisements