Oleh Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 21 Januari 2018)

Orang-orangan Sawah ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Orang-orangan Sawah ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Fadil menarik kopernya yang terasa berat. Ia disambut senyum hangat dari kakek Kurt dan nenek Miriam. Keduanya memeluk erat cucu kesayangan yang tinggal di pusat kota itu. Pelukan yang menghangatkan tubuh Fadil. Di belakang, Giska saudara kembar Fadil sibuk dengan gadget-nya. Tidak peduli dengan senyum kakek dan nenek yang mengembang sempurna di bibir mereka. Sebelum mama berceloteh, Giska tidak akan menyimpan benda yang hanya dengan sekali sentuhan bisa menyajikan berbagai informasi dan aplikasi di dalamnya.

“SELAMAT pagi, kek,” Giska mencium tangan kakeknya dengan wajah muram.

“Cucu kakek kenapa tidak bersemangat?” kakek Kurt mengusap puncak kepala Giska.

“Nenek udah menyiapkan sarapan dan panekuk buat kalian,” ujarnya.

“Nenek buat panekuk?” senyum kemudian Fadil mengembang.

Panekuk buatan nenek Miriam tiada duanya. Fadil selalu terbayang betapa nikmatnya panekuk buatan neneknya. Makanya, setiap akhir pekan menjelang, Fadil selalu merengek kepada mamanya untuk berlibur ke rumah nenek. Meski rumahnya di desa yang sangat terpencil. Akan tetapi, keindahan alamnya sungguh menawan. Seperti pagi ini misalnya, sinar mentari menelusup masuk ke bumi, mengintip dari balik celah Gunung Kembar yang tak jauh dari rumah nenek. Gunung yang sudah tidak aktif lagi itu tetap saja terlihat cantik dari kejauhan.

Belum lagi dengan hamparan padi yang mulai menguning. Semua pemandangan itu akan terlihat jelas ketika dilihat dari Puncak Cemara. Sebuah bukit yang dipenuhi pepohonan cemara di desa Mekar Sari, Dharmasraya. Itulah alasan kenapa Fadil selalu ingin kembali ke desa. Dibandingkan dengan kehidupan di kota, setiap pagi harus mendengarkan suara klak-son yang memekakkan telinga. Belum lagi polusi udara yang ditimbulkan dari asap kendaraan. Jauh berbeda dengan suasana di desa Mekar Sari.

Kebanyakan warga di sini menggunakan sepeda ontel, sepeda tua yang sampai sekarang masih banyak terlihat di sekitaran Dharmasraya. Fadil pun membawa kopernya masuk ke rumah. Diikuti langkah malas Giska yang masih saja sibuk dengan gadget-nya itu. Fadil tidak peduli, kembarannya itu memang susah diberi nasihat. Fadil segera menuju meja makan. Perutnya yang lapar membuatnya tidak sabar ingin segera menyantap panekuk buatan nenek.

“Panekuk buatan nenek selalu mengundangku ke sini,” celoteh Fadil menyuapkan panekuk yang sudah diolesi pasta cokelat kesukaannya.

Berbeda dengan kembarannya, Giska malah sibuk bermain game. Jemarinya begitu lincah berselancar di layar selebar lima inci, sepasang bola matanya fokus menatap layar tak berkedip. Mama Lena yang melihat kelakuan putranya, langsung merebut barang yang membuat putranya lebih egois, fokus dengan dunianya sendiri.

Giska hanya bisa mendesah. Dengan terpaksa ia menikmati sarapan yang telah di hidangkan di meja makan. Papanya tampak menggeleng melihat tingkah putra sulungnya. Fadil bersendawa setelah melahap lima panekuk yang ada di depannya. Tangannya memegang perut, kenyang. Kakek Kurt tertawa melihat kelakuan cucunya yang mirip dengan tingkah papanya sewaktu kecil.

“Setelah sarapan kalian akan ditemani berkeliling desa oleh mang Agus, melihat keindahan desa,” tutur kakek Kurt semangat.

Fadil tampak riang mendengarnya. Sedangkan Giska mengembuskan napas berat. Baginya, berkeliling desa adalah hal membosankan yang tidak bermutu. Lebih baik dirinya bermain game dan mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Agar akun miliknya bisa naik peringkat. Dari pada harus berkeliling desa, berjalan menyusuri jalanan setapak, pematang sawah yang licin dan sering membuat terjatuh. Semua itu membosankan. Tidak ada hal yang istimewa bagi Giska.

Sebelum matahari benar-benar berada di atas kepala. Mereka menelusuri jalanan setapak yang berlumpur akibat hujan semalam. Belakangan ini, curah hujan di Dharmasraya masih cukup tinggi. Hampir setiap malam hujan mengguyur seluruh desa di sini. Pagi ini pun matahari sudah terhalang oleh deretan awan hitam yang berjejer rapi di langit. Sehingga mereka tidak harus berpanas-panasan di bawah teriknya matahari.

“Kita mau ke mana sih?” gerutu Giska memasang wajah letihnya.

“Puncak Cemara,” ucap mang Agus memamerkan deretan gigi putihnya.

Rasa lelah yang tadinya menjalar ke seluruh tubuh, sirna sudah ketika melihat pemandangan yang luar biasa dari Puncak Cemara. Dengan bangga, Giska mengeluarkan gadget dari kantong celananya. Berfoto dengan latar pemandangan hamparan padi yang mulai menguning. Sungguh besar kekuasaan Tuhan. Berulang kali Fadil mengucapkan syukur dalam hati.

“Wah, orang-orangan sawahnya banyak ya, mang,” ujar Giska begitu senangnya.

Mang Agus mengangguk. Ia pun membawa Fadil dan Giska berkeliling melihat orang-orangan sawah dari jarak yang lebih dekat. Fadil mengamati orang-orangan sawah yang diikat ke kayu yang ditancapkan ke tanah. Tubuh-tubuh yang terbuat dari jerami yang dibalut dengan kain lusuh. Kepalanya terbuat dari tempurung kelapa yang kemudian diberi topi di atasnya. Persis seperti manusia.

Giska bergidik ngeri melihatnya. Seperti melihat hantu yang sedang menjaga padi yang mulai menguning dari burung-burung pipit yang kelaparan. Kain lusuh yang membungkus jerami itu bergerak-gerak ketika angin berembus. Membuatnya seperti hidup, matanya melihat tajam ke arah mereka.

“Mang kita pulang yuk, aku capek,” keluh Giska memegangi kedua lututnya.

Sebenarnya ia takut melihat orang-orangan sawah yang berdiri tegak di tengah sawah. Di kota tidak ada benda yang menyeramkan seperti itu. Mang Agus pun mengalah, Fadil yang belum puas melihat orang-orangan sawah hanya bisa mendengus kesal. Seharusnya mereka tidak pergi dengan manusia manja seperti Giska.

“Mang, kalau udah sampai rumah, ajari Fadil membuat orang-orangan sawah ya,” pinta Fadil dengan wajah memohon.

Mang Agus mengangguk, mengabulkan permintaan cucu dari Kakek Kurt. Giska malah bergidik ngeri mendengar kembarannya mau belajar membuat orang-orangan sawah. Ia memikirkan alasan yang tepat agar tidak diajak membuat makhluk mengerikan itu.

***

Kerisik … kerisik

Giska terbangun dari alam mimpinya ketika bunyi kerisik memenuhi pendengarannya. Kamar yang gelap membuat pandangannya kabur, tidak bisa melihat apaapa. Mungkin listrik sedang padam. Maklum, listrik di desa memang sering padam ketimbang di kota. Listrik tidak begitu berpengaruh dengan kehidupan malam di pedesaan yang kebanyakan masyarakatnya tidur lebih awal.

Kerisik… kerisik…. kerisik

Giska mendengar suara aneh dari luar jendela. Angin yang berembus membuat tirai yang menutupi jendela kaca itu bergerak. Giska mengucek matanya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Tangannya mencoba membangunkan saudara kembarnya yang masih terlelap, seolah tidak terganggu oleh bunyi kerisik dari luar jendela. Karena kembarannya tak kunjung bangun, Giska beranjak dari tempat tidur, sendirian. Kakinya melangkah menuju jendela.

Kerisik… kerisik… kerisik

Suara itu semakin jelas terdengar. Entah dari mana datangnya jerami itu. Tanpa sadar, lantai kamar sudah penuh dengan batang jerami yang menimbulkan bunyi kerisik ketika terinjak oleh kakinya. Tiba-tiba saja, hawa dingin masuk melalui celah jendela. Membuatnya merinding. Terbayang olehnya orang-orangan sawah tadi pagi. Rasa takut menyelimuti dirinya. Namun, Giska tetap memaksa kakinya melangkah, mendekati jendela.

Kerisik…. kerisik…. kerisik

Dengan tubuh gemetar, ia menyibakkan tirai jendela. Cahaya rembulan menyelinap masuk melalui kaca jendela. Memberi sedikit penerangan. Belum sempat Giska mengintip ke luar jendela. Sepasang matanya menangkap sosok gelap yang berdiri di luar jendela.

Kerisik…. Kerisik…. kerisik

Mata hitam itu menatap ke arahnya, tajam. Tangan-tangannya yang terbuat dari kumpulan jerami, dengan kain lusuh yang digunakan untuk menutupinya. Tangan itu mencoba menggapai jendela. Bergerak-gerak, orang-orangan sawah, pikir Giska dalam hidup. Orang-orangan sawah itu benar-benar hidup.

“Hantu,” teriak Giska berlari ke atas tempat tidur.

“Dil … bangun Dil. .. ada orang-orangan sawah di luar!” teriak Giska membangunkan kembarannya.

Kakek Kurt yang mendengar kegaduhan dari kamar cucunya, langsung memeriksa. Giska mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Ia semakin ketakutan. Fadil tidak juga bangun. Belum lagi bunyi kerisik-kerisik yang berasal dari luar jendela, membuatnya semakin ketakutan. Pintu kamar terbuka dengan sendirinya. Tubuh gelap berdiri di depan pintu. Bayangan gelap dengan sepasang mata hitam yang menatapnya tajam. Pandangan yang ingin membunuh siapa saja.

***

“Hantu!” teriak Giska terbangun dari tidurnya.

Fadil yang mendengar teriakan, langsung membuka kedua matanya. Mendapati kembarannya terbangun dengan napas terengah-engah. Tubuhnya basah oleh keringat. Padahal, suhu di desa ketika malam terasa dingin sekali.

“Kamu mimpi buruk ya, Ka?” tanya Fadil mengucek kedua bola matanya yang terasa lengket.

Giska tidak menjawab, ia masih mengatur napasnya yang terengah-engah. Pagi harinya, suasana di meja makan penuh dengan tawa mendengar Giska menceritakan mimpi buruknya semalam.

“Makanya jangan bermain game terus. Biar punya mental yang kuat,” ujar kakek Kurt seraya melemparkan senyum ke arah cucunya yang paling manja itu. (*)

Advertisements