Oleh Elisa DS (Kompas, 21 Januari 2018)

Desa Pancasila ilustrasi Regina Primalita - Kompas.jpg
Desa Pancasila ilustrasi Regina Primalita/Kompas

Minggu kali ini, Lala, Lili, Ayah, dan Bunda dalam perjalanan menuju rumah Paman Ranu yang berada di Lamongan, Jawa Timur.

“Bunda, besok ke Wisata Bahari Lamongan, ya. Aku ingin main flying fox,” celetuk Lala.

“Ke Goa Maharani aja. Aku ingin lihat ular albino,” tukas Lili.

Lala melotot. “Tidak. Pokoknya ke Wisata Bahari Lamongan!”

“Goa Maharani. Titik!” Lili tak mau kalah.

Bunda geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua putrinya yang usianya hanya berselisih satu tahun itu.

“Kalian ini, apa nggak capek bertengkar terus?”Ayah yang sedang konsentrasi menyetir akhirnya angkat bicara.

Lala dan Lili diam sambil menekuk wajah.

Mobil yang dikemudikan ayah akhirnya sampai di rumah Paman Ranu. Paman Ranu menyambut dengan gembira.

“Lho, kenapa cemberut?” tanya paman Ranu saat menyalami Lala dan Lili.

“Biasa… adu mulut.” Ayah menceritakan penyebab pertengkaran mereka.

Paman Ranu manggut-manggut. “Begini aja, besok kalian ikut Paman ke Desa Pancasila.”

“Desa Pancasila?” tanya Lala dan Lili serempak. Mereka pun memberondong paman dengan pertanyaan.

“Lihat aja besok. Tidak seru kalau Paman cerita sekarang.”

Advertisements