Oleh Kak Ian (Padang Ekspres, 14 Januari 2018)

Bermain Randai ilustrasi Google
Bermain Randai ilustrasi Google

Tidak lama lagi musim panen di Kampung Pariangan segera tiba. Kampung itu tempat tinggal Suni. Ia sudah berada di sana sejak kecil. Tentunya sebagai urang awak ia ingin sekali mengikuti acara musim panen itu nanti.

BIASANYA jorong akan memberitahukan pada semua warga kampung bila musim panen tiba akan ada perayaan. Dan perayaan itu akan menampilkan permainan tradisional randai. Itu dilakukan semata-mata sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas panen yang berlimpah.

Dan Suni ingin sekali ikut dalam acara itu. Ingin berada di dalam permainan randai itu.

Apalagi Suni tahu jika inyiak Bahar, kakeknya itu adalah salah satu orang terpenting dalam permainan randai. Inyiak Bahar di dalam randai itu ia sebagai jarang. Orang yang mengatur atau yang memberikan aba-aba setiap gerakan randai kepada para pemainnya.

Tentulah Suni pasti diizinkan untuk menjadi salah satu orang yang akan meramaikan permainan randai itu. Pikirnya. Walaupun usia Suni masih ketek. Tapi ia ingin sekali belajar bermain randai.

Seperti malam itu seusai salat isya Suni sudah ke rumah inyiak Bahar. Ingin melihat orang-orang berlatih randai. Setiba di rumah inyiak Bahar mata kecil Suni terbelalak. Ia terkejut saat mengetahui di muka perkarangan halaman rumah inyiak Bahar yang luas itu sudah sangat ramai. Sudah banyak para anak bujang remaja berkumpul. Mereka ingin berlatih randai pada inyiak Bahar. Inyiak Bahar adalah ayah dari Apak Suni.

Namun saat Suni mengamati para pemain randai mata bulatnya melihat sosok anak bujang seusianya. Tidak lain itu adalah Samsul. Samsul adalah anak dari adik Amak Suni. Jadi Amak Samsul dan Amak Suni, mereka itu adalah kakak beradik. Akhirnya Suni menghampiri Samsul.

“Kamu ada di sini, Sul?” tanya Suni.

“Iya! Aku ingin ikut meramaikan acara panen nanti. Lagi pula Apak dan Amak di rumah sudah mengizinkannya,” jawab Samsul.

“Oya, kamu sendiri kemari untuk apa?” lanjutnya.

“Sebenarnya aku kemari ingin seperti kamu. Makanya aku menemui inyiak. Semoga saja aku diperbolehkan,” ucap Suni tertunduk lesu.

“Kalau begitu aku antar ke hadapan inyiak. Ayo, ikut aku,” Samsul menawarkan diri.

Suni masih berdiam diri. Ia masih ragu. Apakah nanti diperbolehkan oleh Apak dan Amak di rumah atau tidak. Sebab, ia belum meminta izin untuk ikut bermain randai.

“Ayo, aku antarkan ke hadapan, inyiak! Aku yakin inyiak pasti mengizinkan kamu bermain randai. Apalagi sebagai generasi penerus kita harus melestarikan seni ini sebagai urang awak. Iyakan?” Samsul menegaskan.

Lama Suni terdiam. Akhirnya ia membuka suara juga. “Tapi aku belum izin sama Apak dan Amak di rumah kalau aku ingin ikut bermain randai,” ungkap Suni.

“Oh, masalah itu biarlah nanti inyiak yang menangani Apak dan Amak kamu di rumah. Aku saja bisa ikut karena dibantu inyiak. Bagaimana kamu mau dibantu sama inyiak, tidak?” Samsul menyemangati Suni.

“Baiklah kalau begitu aku setuju dengan usul kamu! Terima kasih atas saran kamu ya, Sul,” Suni berterima kasih.

“Sama-sama! Apalagi sebagai urang awak harus saling menyemangati. Bukan begitu,” Samsul menghibur Suni.

Usai itu mereka pun menemui inyiak Bahar. Dan malam pun sudah makin larut, latihan randai pun terlihat sudah dimulai. Suni berharap inyiak Bahar nanti bisa membujuk kedua orangtuanya itu untuk mengizinkan dirinya bermain randai untuk merayakan musim panen nanti.

Suni jadi tidak sabar untuk berlatih randai bersama Samsul dan para anak bujang lainnya. Suni ingin buru-buru berlatih randai.

Esokkannya, inyiak Bahar dan Samsul pun ke rumah Suni. Mereka ingin menemui Apak dan Amak Suni di rumah agar Suni diizinkan bermain randai meramaikan acara panen nanti.

Setiba di rumah inyiak Bahar langsung menemui Apak dan Amak Suni di ruang tamu. Sedangkan Suni dan Samsul menunggu di teras depan rumah. Mereka tidak boleh ikut campur jika urang gadang sedang bicara. Mereka mendengarkan saja di teras. Kecuali jika mereka diizinkan bicara. Boleh mengiyakan!

“Boleh saja Suni ikut bermain randai. Tapi persyaratannya seusai belajar dan mengerjakan tugas sekolah lebih dulu, Inyiak!” tukas Apak pada inyiak Bahar.

Suni yang berada di teras bersama Samsul hanya menyimak saja. Suni hanya menyahut jika diperintahkan saja.

Suni hanya sebagai pendengar saja. Jika diperintahkan bicara ia baru mengiyakan. Dan kini tibalah Suni diberikan kesempatan bicara saat inyiak Bahar memanggilnya.

“Bagaimana kamu sudah tahu persyaratan dari Apak kamu tadi?” tanya inyiak Bahar.

“Iya, aku janji akan menuruti persyaratan itu asal aku bisa ikut bermain randai untuk meramaikan acara panen nanti. Karena aku ingin sekali bisa melestarikan seni tradisonal di kampung ini, Apak,” jawab Suni panjang lebar.

Inyiak Bahar, Apak dan Amak yang mendengarnya pun terharu. Mata mereka pun berkaca-kaca ketika mengetahui keinginan mulia Suni.

“Baiklah, Apak mengizinkan kamu! Tapi ingat kamu baru bisa berlatih randai jika sudah belajar dan mengerjakan tugas sekolah lebih dulu!” Apak kembali mengingatkan Suni.

“Siap, Apak!” tukas Suni penuh semangat.

Akhirnya sejak itu Suni diizinkan bermain randai untuk meramaikan cara panen nanti. Ia begitu semangat berlatih. Itu terlihat saat ia begitu semangat dan sangat teratur dalam mengikuti gerakan tiap gerakan yang diperintahkan oleh jarang. Itu semua dilakukan agar terlihat kompak dan menarik serta indah di mata penonton randai nantinya.

“Bagaimana kamu sukakan dengan seni randai ini?” tanya Samsul pada Suni saat sedang berlatih.

“Iya, aku sangat suka sekali! Ternyata di kampung kita ada seni seperti ini. Aku jadi tidak sabar menunggu acara panen cepat terlaksana,” jawab Suni sambil mengikuti gerakan yang diperintahkan jarang. “Kalau kamu, Sul?” lanjutnya.

“Iya, seperti kamu itulah!” tukas Samsul.

Saat Suni dan Samsul asyik bicara tiba-tiba inyiak Bahar menegurnya.

“Mau berlatih atau banyak bicara!” tegur inyiak Bahar.

“Kita ingin berlatih, inyiakkkk…!” kompak mereka.

Akhirnya mereka kembali berlatih dengan bersungguh-sungguh sambil mengikuti ucapan yang dikeluarkan dari mulut inyiak Bahar sesuai aba-abanya. Dan Suni pun makin tidak sabar untuk menanti acara panen tiba. Walaupun saat itu ia sedang berlatih randai dengan begitu penuh semangat dan percaya diri. (*)

Advertisements