Oleh Salsabila Zahratusysyita (Suara Merdeka, 17 Desember 2017)

Petualangan Pluppi ilustrasi Suara Merdeka
Petualangan Pluppi ilustrasi Suara Merdeka

Sebuah amplop melayang, meliuk di antara cabang-cabang pepohonan. Sesekali ia tersangkut di sela ranting pohon, kemudian terbang lagi terkena tiupan angin.

“Halo, apakah ada yang tahu di mana aku sekarang?” teriak Pluppi, sang amplop surat yang kini tersangkut di sela ranting pohon karet.

“Kau sekarang berada di Hutan Pelangi, amplop kecil,” suara Burung Merpati tiba-tiba mengagetkan Pluppi.

“Mengapa kau hanya seorang diri? Tidak adakah yang mengantarmu?” tanya Burung Merpati heran.

Pluppi menggeleng.

Baca juga: Tugas Piket Diandra – Oleh Salsabila Zahratusysyita (Kompas, 29 April 2018)

“Tidak ada, Burung Merpati. Aku sampai sejauh ini karena diterbangkan angin. Seharusnya, aku diantar oleh Tuan Pos. Tapi belum sempat Tuanku mencapai kantor Tuan Pos, tiba-tiba ada angin yang sangat kencang menerbangkanku. Tuanku sudah berusaha mengejarku, tapi aku telanjur naik semakin tinggi dan menjauh,” cerita Pluppi dengan murung.

“Jangan sedih, aku punya banyak teman yang bisa mengantarmu. Boleh aku melihat alamatmu?” tanya Burung Merpati.

Pluppi mengangguk senang.

“Wah, kau harus melewati lautan luas untuk mencapai ke sana. Dan yang bisa mengantarmu adalah si Elang,” ucap Burung Merpati.

Baca juga: Tak Kenal Maka Tak Sayang – Oleh Herdita Dwi R (Kompas, 10 Juni 2018)

“Nah, itu Elangnya!” pekik Burung Merpati sambil menunjuk ke arah langit.

Ia kemudian memanggil Elang dan bercerita tentang Pluppi.

“Baiklah amplop kecil, aku akan mengantarmu. Tapi hanya sampai di tengah lautan, karena tujuan kita tidak sama. Nanti kuturunkan kau di sebuah kapal yang akan menuju ke dermaga terdekat dari kota tujuanmu,” ucap Elang.

Pluppi mengangguk senang dan mengucapkan terima kasih.

***

Advertisements